Personal tools
Log in
Personal tools
Log in
Recently visited
You are here: Home Magazines Indonesia 25: Memberdayakan Petani dengan LEISA

25: Memberdayakan Petani dengan LEISA

(In Indonesian) Empowering Farmers with Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA). LEISA, as one of the NGO's that works on sustainable agriculture, has quite a strong focus on gender. A way to eliminate marginalisation due to gender is to engage women and child in any farmers activities.

A woman farmer in Toraja is trying to implement integrated farming systems on land, with a rice and sweet potato combination.  Another example of empowerment is agrotourism that involved farmer, mother and small co-operative on the outskirts of a village.

Table of contents:

  • 1 - 1
    LEISA memperhatikan aspek gender dalam penerapannya. Ini adalah salah satu cara untuk menghapuskan peminggiran akibat ketidakadilan gender dalam keluarga petani. Seorang perempuan petani di Toraja yang menerapkan sistem pertanian terpadu di lahannya, kombinasi padi dan ubi jalar.
  • 2 - 3
  • 4 - 5
    Petani adalah kelompok masyarakat yang seringkali mengalami peminggiran, pengucilan, atau pemarginalan. LEISA bisa menjadi salah satu solusi untuk mengembalikan posisi petani yang terpinggirkan ke dalam masyarakat.
  • 6 - 8
    Sekelompok perempuan berinisiatif membentuk organisasi produsen padi di Mali, Afrika. Tak hanya meningkatkan produksi, kelompok ini juga berusaha merubuhkan hambatan tradisional antara perempuan dengan laki-laki dan antarkasta.
  • 9 - 12
    Awalnya masyarakat Punan Kelay di Berau, Kalimantan Timur hidup sebagai peramu yang menggantungkan hidup sepenuhnya pada hasil hutan. Dengan bantuan LSM, mereka menentukan lahan yang dipakai bertanam padi, bertanam kakao, dan kebun wanatani.
  • 13 - 14
    Akibat HIV dan AIDS, jumlah anak yatim di Mozambik bertambah. Sejumlah perempuan berkomitmen mengasuh, tetapi mereka sangat miskin. Sebuah organisasi membantu para pengasuh dan anak yatim merintis bisnis ayam. “Kini kami dapat menyediakan seragam sekolah dan makanan bagi anak-anak”.
  • 15 - 17
    Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT) di Magelang mendirikan sekolah alternatif. Komunitas belajar ini memakai kurikulum bebas, tidak terpaku pada kurikulum pemerintah. Karena itulah siswa bebas belajar, berkreasi, dan mencari pengalaman termasuk tentang isu pertanian.
  • 18 - 21
    Gerakan bernama Canastas Comunitarias di Ekuador memberikan jaring pengaman sosial bagi kelompok termarjinalkan, terutama yang ketersediaan pangannya terancam dan peluang mencari nafkahnya terbatas. Anggota komunitas memperoleh makanan sehat dengan harga murah. Berawal dari 25 keluarga, sekarang ada 640 keluarga anggota kelompok yang makin berkembang ini.
  • 22 - 24
    Tidak seperti sekolah-sekolah pada umumnya, SALAM adalah tempat belajar bagi anak-anak yang memberikan suasana belajar yang unik dan merakyat. Di sini anak-anak berinteraksi dengan kesehariannya dalam lingkungan pertanian di Bantul, Yogyakarta.
  • 25 - 27
    Sebuah LSM di Brazil meneliti sejauh mana program pembangunan desa mempertimbangkan keragamaan situasi sosial. Bagaimana pendekatan pertanian berkelanjutan dan gender yang dipilih membantu keluarga-keluarga lepas dari kemiskinan?
  • 28 - 30
    Lebih dari 300 petani hutan di Kubangsari Bandung Selatan membudidayakan kopi di kawasan hutan lindung seluas 326,25 hektar milik Perhutani. Padahal sebelumnya mereka adalah perambah hutan tersebut. Kini, perambahan berkurang, aktivitas ekonomi masyarakat berbasis hutan mulai bermunculan, dan kawasan hutan lindung menghijau kembali.
  • 31 - 33
    Empat desa di Bali yang sebelumnya terpinggirkan oleh pariwisata membentuk jaringan bersama bernama Jaringan Ekowisata Desa (JED). Selain mendistribusikan pemasaran hasil pertanian masing-masing desa, jaringan ini juga menjadi alternatif bagi pariwisata masal Bali. Lebih dari itu, JED juga menjadi upaya untuk memiliki kembali Bali yang terlalu banyak dieksploitasi atas nama pariwisata.
  • 34 - 34
    Walhi lahir sebagai reaksi dan keprihatinan atas ketidakadilan dalam pengelolaan sumber daya alam dan sumber-sumber kehidupan, sebagai akibat dari paradigma serta proses pembangunan yang tidak adil dan berkelanjutan. Sedangkan AMAN menjadi wadah perjuangan masyarakat adat untuk menegakkan hak dan kedaulatannya dalam kehidupan sosial budaya, ekonomi, hukum, politik, dan lingkungan.
  • 35 - 35
    “Desaku Sekolahku” karya AM. Nizar Alfian H bercerita tentang sebuah sekolah alternatif yang berupaya mendekatkan dirinya dengan lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Sedangkan "Sokola Rimba" bercerita bagaimana Butet Manurung berupaya dengan idealismenya mentransfer pengetahuan untuk orang-orang rimba
  • 36 - 36
    Tema edisi depan adalah tentang Pertanian Keluarga. Tujuannya untuk menggarisbawahi peran penting pertanian skala kecil dalam dunia pertanian. Tulisan Anda ditunggu selambat-lambatnya 31 Januari 2009.
Document Actions
  • Print this Print this