18 - Memanfaatkan Proses Ekologis dengan Lebih Baik
(In Indonesian) How to utilise ecological processes for a better farming system. Often farmers find it difficult to adopt new agricultural technologies that already exist. New technology and new systems/methods can be difficult to apply in the field. Agriculture, through an ecological approach, allows the development of a diverse ecosystem.
The integration between animal and plant can bring a positive interaction and optimise productivity. It is important for farmers to know and support the processes that can strengthen the agro-ecological system.
Through studying together at the field school, some farmers (farmers in Balis are in this case studied) prove that the implementation of an integrated farming system is giving high quality crops, both in quantity and quality.
Table of contents:
-
1 - 1Hamparan Sawah Dusun Wangaya Betan, Desa Mengesta, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Sebagian dari sawah-sawah ini sudah mulai menerapkan sistem SRI.
-
2 - 3
-
4 - 5
-
6 - 9written by I Wayan Alit Artha WigunaSeringkali petani mengalami kesulitan untuk mengadopsi teknologi-teknologi pertanian baru yang ada. Upaya mengadopsi teknologi yang dibarengi dengan pemanfaatan potensi yang ada di lingkungan petani menjadi salah satu strategi yang dikembangkan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali bersama para petani anggota Subak Wangaya Betan di Tabanan, Bali, agar pengembangan teknologi pertanian bisa sejalan dengan kebutuhan petani. Dengan metode belajar bersama di sekolah lapang, kini anggota Subak Wangaya Betan membuktikan bahwa penerapan SRI yang dikombinasikan dengan potensi-potensi di lingkungan mereka (dalam hal ini pemakaian pupuk limbaj ternak) mampu memberikan hasil panen yang berkualitas, baik dalam kuantitas maupun kualitas.
-
10 - 13Pertanian dengan pendekatan ekologis (agroekologi) mengajak kita untuk mengembangkan keragaman ekosistem pertanian (agroekosistem) dalam wujud integrasi aneka jenis hewan dan tanaman. Integrasi hewan dan tanaman yang sukses akan memperkuat interaksi positif dan mengoptimalkan fungsi serta proses yang terjadi di dalam ekosistem, seperti misalnya pengendalian hama berbahaya, daur ulang unsur hara, produksi biomassa dan penyediaan asupan bahan-bahan organik. Dengan cara ini, sebuah agroekosistem bisa menjadi lebih “tangguh”. Karena itu, penting bagi para petani untuk mengetahui dan mendukung proses-proses apa saja yang bisa memperkuat fungsi agroekosistem.
-
14 - 16Beberapa kelompok petani peneliti di negara bagian Santa Catarina di sebelah selatan Brazil melakukan eksperimen dengan beragam teknik untuk mengelola kesuburan tanah di lahan mereka. Salah satu teknik yang mereka uji adalah penggunaan bubuk batu yang dicampur dengan beragam bahan organik, yang terbukti sukses mengembalikan kesuburan tanah. Teknik ini bukanlah upaya memberikan unsur hara secara langsung ke dalam tanah (atau dengan kata lain menggantikan peran pupuk kimia buatan) melainkan metode yang mengarahkan kita untuk mengubah cara pandang tentang pengelolaan kesuburan tanah dalam sebuah agroekosistem. Hasil yang mereka peroleh sungguh sangat menarik, dan proses yang dijalani juga meningkatkan pemahaman mereka terhadap beberapa proses ekologis yang penting dalam pengelolaan kesuburan tanah.
-
17 - 19written by Genie Fitriadie , RahmantoPak Naryanto dan Pak Saryono dari Dusun Kisik, Yogyakarta, membuktikan kepada teman-teman petani yang lain bahwa asupan hara sesungguhnya harus ditujukan pertama kali kepada tanah. Tanahlah yang kemudian mengolahnya dan kemudian memberikan asupan hara bagi tanaman. Serasah yang dicampur bersama kotoran ternak mampu memperbaiki kualitas hasil panen dan kondisi ekosistem di lahan mereka. Tanah menjadi lebih mudah dicangkul dan hasil panen padi mereka menjadi lebih banyak dengan rasa yang lebih enak dan wangi. Mereka juga menemukan semakin banyaknya berbagai hewan kecil, serangga, cacing tanah, dan tanaman kecil lain yang tumbuh dan berkembang, bukti membaiknya lingkungan di sekitar pertanian mereka.
-
20 - 22written by John Andrew Siame (Dr.)Di Propinsi sebelah Utara Zambia, banyak petani skala kecil mempraktikkan sistem ladang berpindah (yang secara lokal dikenal dengan nama chitemene) pada hutan-hutan miombo. Dengan cara ini petani mampu menanam rata-rata tiga jenis tanaman secara bergantian, tetapi setelah tiga tahun kesuburan tanah dan hasil panen menurun, sehingga petani harus membuka lahan baru. Penelitian menunjukkan bahwa sistem chitemene dapat dipertahankan sepanjang kepadatan penduduk tidak melampaui 7 orang/ km2. Pada kenyataannya, dengan semakin baiknya gizi dan kesehatan, jumlah penduduk desa cenderung bertambah. Akibatnya, petani tidak dapat lagi menunggu selama 25 tahun (jangka waktu memberakan tanah secara tradisional yang bertujuan memulihkan kesuburan tanah), sebelum kembali mengolah tanah tersebut. Mereka kini hanya bisa menunggu sekitar 10 tahun. Tindakan ini merusak efektivitas sistem chitemene.
-
23 - 25written by Michael MisikoPengelolaan kesuburan tanah merupakan isu kunci dalam pertanian berkelanjutan di daerah tropis. Sumber daya organik berperan penting dalam penyediaan unsur-unsur hara jangka pendek, di samping pengelolaan bahan organik tanah dalam jangka panjang. Bagi petani kecil, material-material organik merupakan sumber unsur hara penting dan bermanfaat dalam mengelola kesuburan tanah. Kendati demikian, ketersediaan material-material organik di lahan kerap kali terbatas dan kualitasnya berbeda-beda. Karena ketersediaan yang terbatas itulah, maka penggunaannya harus dikelola seefisien mungkin.
-
26 - 28written by Carolyn W. Fanelli , Lovemore DumbaPertanian konservasi memanfaatkan proses ekologis alami untuk mempertahankan kelembaban, meningkatkan kesuburan tanah, memperkuat struktur tanah, dan mengurangi erosi serta keberadaan hama penyakit. Hal itu dilakukan dalam tiga cara, yaitu dengan meminimalkan gangguan pada tanah, menyimpan sisa tanaman, dan rotasi tanaman. Pembajakan dan pembakaran mengganggu tanah dan biota kecil yang hidup di dalamnya. Sebaliknya, pertanian konservasi sangat sedikit mengganggu tanah, memberi kesempatan flora dan fauna tanah yang ada untuk tumbuh subur secara alami.
-
29 - 30written by Subekti RahayuGulma telah menjadi momok bagi petani. Di Kecamatan Sumberjaya, Lampung Barat, permasalahan ini bergandengan dengan masalah erosi, terutama pada kebun kopi naungan sederhana dan kebun kopi muda. Untunglah, petani-petani kopi di wilayah ini mampu mengatasi persoalan gulma dan erosi dengan memanfaatkan tanaman Arachis pintoi. Tanaman sejenis kacang-kacangan ini mampu mengusir gulma dari lahan serta menjadikan lahan lebih subur karena kemampuannya mengikat nitrogen serta menghambat terjadinya erosi. Bagaimana cara tanaman ini bekerja?
-
31 - 33written by V. Ernesto MéndezPola penanaman kopi dengan naungan mempunyai potensi luar biasa bagi pelestarian jenis tanaman dan binatang tropis, di samping menghasilkan biji kopi berkualitas tinggi. Artikel ini menceritakan kaitan potensi tersebut dengan strategi petani dalam mengelola sumber penghidupan di enam koperasi petani kopi di El Salvador dan Nikaragua. Penggunaan riset dengan pendekatan partisipasi aktif membantu terjadinya pertukaran informasi antara petani dan peneliti. Proses pembelajaran bersama ini meningkatkan pemahaman terhadap proses ekologi yang terjadi di kebun kopi dengan naungan. Pemahaman yang lebih ini memunculkan kemungkinan untuk mengembangkan pengelolaan yang lebih baik (terutama dalam hal kesuburan tanah serta pengelolaan hama dan gulma), yang mendukung kerjasama dan sumber penghidupan anggota kelompok tani ini.
-
34 - 34Aliansi Organis Indonesia Aliansi Organis Indonesia adalah organisasi masyarakat sipil yang berbadan hukum perkumpulan, bersifat nirlaba, dan independen. Aliansi ini awalnya bernama Perkumpulan BIOCert yang berganti nama menjadi Aliansi Organis Indonesia pada Rapat Umum Anggota Luar Biasa di Bogor, 5 Desember 2006. Pergantian nama ini didasari pemikiran untuk lebih memajukan aktivitas organisasi dan kerja-kerja yang lebih bebas dari konflik kepentingan. Untuk menjalankan aktifitasnya, Aliansi Organis Indonesia memperoleh pendanaan dari pihak ketiga yang bersifat tidak mengikat. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) didirikan di seluruh provinsi di Indonesia dalam rangka desentralisasi kegiatan penelitian dan pengkajian (litkaji). Luasnya wilayah Indonesia dengan beragam potensi agroekosistem dan sumber daya alam, tidak mungkin dikelola dari aspek litkaji secara terpusat (sentralisasi). Setelah beberapa kali perubahan SK, mulai dari SK. Mentan 798/94, hingga terakhir BPTP diatur dalam Permentan No. 16/2006. Tugas pokok BPTP adalah melaksanakan kegiatan penelitian komoditas, pengujian dan perakitan teknologi tepat guna spesifik lokasi.
-
35 - 35Buku 1. Pertanian Organik - Menuju Pertanian Alternatif dan Berkelanjutan (Rachman Sutanto) Buku 2. Sistem Pertanian Berkelanjutan (Karwan A. Salikin)
-
36 - 36Undangan menulis artikel untuk Majalah SALAM. Di sini dimuat tema-tema yang akan diangkat untuk Majalah SALAM edisi 19 dan 20
