11 - Energi dari Lahan
(In Indonesian) Energy from Land. Fossil fuels (oil, coal and gas) are still the main energy sources in Indonesia, but increasing energy demands by industry, agriculture and households have brought this country closer to a national energy crisis.
There is an urgent need to explore, develop and utilise more renewable energy sources such as biomass from plants and animals, animal traction, wind and solar radiation, of which interesting examples can already be found in some rural areas.
Table of contents:
-
1 - 1
-
2 - 3
-
4 - 5Di Indonesia, minyak bumi, batubara dan gas alam masih menjadi tumpuan utama sumber energi. Permintaan terhadap energi ini semakin meningkat seiring pergeseran orientasi dan pondasi ekonomi dari sektor pertanian ke industri. Untuk memenuhi kebutuhan energi tersebut, telah terjadi eksploitasi besar-besaran yang mengakibatkan Indonesia berada dalam krisis energi akibat hampir habisnya cadangan sumber-sumber energi fosil ini. Diperkirakan dalam 15 tahun mendatang, Indonesia akan menjadi pengimpor minyak bumi jika pada saat itu tidak ditemukan cadangan minyak baru. Pemanfaatan energi terbarukan seperti biomasa, angin dan matahari agaknya menjadi hal yang patut dipertimbangkan mulai sekarang. Di perdesaan hal ini bukanlah sesuatu yang baru. Banyak contoh yang telah dilakukan dalam pemanfaatan energi terbarukan ini baik untuk pertanian maupun rumah tangga. Editorial – English summary Fossil fuel (oil, coal and gas) are still the main energy sources in Indonesia, but increasing energy demands by industry, agriculture and households has brought this country closer to a national energy crisis. There is an urgent need to explore, develop and utilize more renewable energy sources such as biomass from plants and animal, animal traction, wind and solar radiation, of which interesting examples can already be found in some rural areas. Links: - Jaringan Kerja Tungku Indonesia (JKTI) - Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI)
-
6 - 7Reactions from Readers
-
8 - 9written by Bambang SujatmikoKompor tenaga surya yang pertama kali dibuat oleh Pak Minto pada tahun 1991 ini tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk memasak. Dengan penambahan peralatan berupa receiver, LNB dan antena, kompor ini bisa berubah fungsi menjadi parabola yang bisa menangkap siaran televisi dari berbagai belahan dunia. \"Two in One\" cooker The solar cooker constructed by Mr. Minto for the first time in 1991 is not only a device for cooking. By just adding some other equipment such as a receiver and an aerial, this cooker becomes a satelite dish capable of receiving television channels from different parts of the world.
-
10 - 12written by JuniatiDesa Tanjung di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, merupakan salah satu daerah penghasil kelapa terbesar di Pulau Lombok. Kelapa di daerah ini diolah menjadi kopra untuk bahan baku minyak goreng. Hasil sampingan pembuatan kopra yang berupa serabut dan tempurung kelapa juga sudah mulai dilirik masyarakat sebagai sumber pendapatan tambahan. Seperti yang dilakukan oleh Pak H.Umar yang telah membuat arang dari bahan tempurung kelapa sejak tahun 70-an dan memasarkannya ke luar daerah seperti Bali. The black substance that supports livelihoods Tanjung village on Lombok is one of the island\'s main centres of copra production. By-products of this village industry are fibres and the coconut shell, which has also become a source for additional income. Mr. H. Umar is one of the villagers who makes charcoal from coconut shells. He started doing this in the 1970s and exports his product to other areas like Bali.
-
13 - 13written by MaraduPusat Pengembangan Teknologi Arang Terpadu (PPTAT) didirikan di Desa Toho Ilir, Kalimantan Barat, mempunyai tujuan khusus untuk mengadakan uji coba secara praktek penggunaan arang, lalu hasilnya disebarluaskan ke masyarakat. Masyarakat perdesaan binaan Yayasan Dian Tama (YDT) lebih banyak memfungsikan arang di sektor pertanian dan peternakan, daripada untuk bahan bakar tungku. Sebuah pengalaman menarik mengenai pemanfaatan arang sebagai bahan bakar di pedalaman Kalimantan. Charcoal technology in West Kalimantan A local NGO (YDT) in West Kalimanta, Indonesia, in collaboration with ICCA (Japan), has been working since 1990 on developing and popularizing charcoal as fuel source for household kitchens. In the area around Pontianak Town there is a lot of copra production. These village industries discard coconut shells as a waste product. From coconut shells, however, good quality charcoal can be produced.
-
14 - 16written by SuswadiKebutuhan kedelai untuk pembuatan tahu di Dusun Kanoman, Boyolali, Jawa Tengah, bisa mencapai lebih dari 4 ton tiap harinya. Limbahnya yang berupa limbah padat dan cair sangat berguna. Limbah cairnya menghasilkan biogas yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif dalam rumah tangga petani. Sedangkan limbah cairnya dapat dimanfaatkan sebabagi pupuk cair. Waste from tofu production is fuel for families In a tofu producing village in Boyolali District, Central Java, 18 family industries produce quite an amount of solid and liquid waste. The solid waste is mixed with animal feeds. Fluid waste material, however, was always discarded in the local river, causing a continuous stench. With financial and technical assistance from the government department for industry, trade and cooperatives, a biodigester was build, in first instance to reduce the unhealthy stench but at the same time this installation produces enough biogas for cooking and lighting in four homes.
-
17 - 17written by Luqman HakimMenumpuknya kotoran hewan dan limbah yang dihasilkan dari usaha rumah potong hewan miliknya membuat Pak Dirjo tergerak untuk membuat biogas sendiri. Dengan bantuan dari Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP) Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah, bapak yang juga pemilik usaha pembuatan abon dan dendeng sapi ini mengawali usahanya dengan membuat biodigester berkapasitas 60 m3. Biogas yang dihasilkan dimanfaatkan sebagai bahan bakar dalam pembuatan abon dan dendeng sapi sedangkan hasil sampingannya berupa pupuk cair (slurry) digunakan sebagai pupuk. Animal waste as material for alternative energy Mr Dirjo from Boyolali, Central Java,fattens cattle and processes their meat. Animal dung and waste from slaughtering the animals is collected in a biodigester. The biogas produced is used for heating purposes in processing traditional dried beef products such as \"abon\" and \"dendeng\". The slurry from the biodigester is utilized for manuring crops.
-
18 - 19written by Wim J. van Nes - Executive DirectorPembangunan instalasi biogas di Nepal yang dimotori oleh Netherlands Development Organization (SNV) telah mampu meningkatkan taraf kesehatan masyarakat terutama di perdesaan. Selain itu, keberadaan instalasi biogas telah mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar sehingga secara ekonomis menguntungkan. Kaum perempuan juga diuntungkan dengan berkurangnya waktu yang diperlukan untuk memasak setelah menggunakan biogas sehingga mereka bisa memanfaatkan waktunya untuk kegiatan yang lebih produktif. Biogas for homes in Nepal The construction of biogas installations in Nepal, coordinated by de Netherlands Development Organization SNV, has boosted the health condition of rural people. The construction of the biodigesters is economically interesting because it is providing many with work. A benefit for women is that they need to spend less time cooking when using biogas and this leaves them with time that they can utilize in a more productive way.
-
20 - 22written by Rustanty Dewi , Indria PratiwiDusun Bendo, Desa Trimurti, berada tepat di pinggiran aliran sungai Progo, masuk dalam wilayah Kec. Srandakan, Kab. Bantul, Jogja. Pada masa kejayaannya, di tahun 50-an, di kampung ini terdapat 9 rumah produksi mie. Sekarang hanya tinggal 3 buah, salah satunya adalah milik Yasir Ferry Ismatrada yang merupakan pionir pembuatan mie di desanya, pada tahun 40-an. Sejak awal berdiri hingga sekarang tidak ada yang berubah baik peralatan maupun penggunaan tenaga kerjanya. Di tempat ini tidak ditemukan mesin, seluruh proses produksi dikerjakan oleh manusia dibantu oleh tenaga 2 ekor sapi. Tak ada yang tahu pasti kenapa memilih memanfaatkan sapi sebagai tenaga penggerak untuk menggiling adonan tepung tapioka berukuran raksasa. Slowly but surely - the bull still manages Trimurti village in Bantul District, Yogyakarta, is known since the 1950s as a production centre for noodles. In the 3 family production units left from those days no machine can be found and the whole production process is still done by human hands assisted only by draught power of two bulls.
-
23 - 23written by JuniatiHewan ternak, seperti sapi dan kuda sangat berperan bagi masyarakat terutama di perdesaan. Mereka dimanfaatkan sebagai “tenaga kerja” dalam pertanian misalnya untuk membajak sawah dan menggaru. Selain itu, mereka juga dimanfaatkan sebagai penarik alat angkut tradisional seperti cikar dan cidomo yang merupakan transportasi masyarakat perdesaan di pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Animal draught power in rural areas Animals such as oxen and horses play an important role for rural communities. They are used as \"labour force\" in agriculture, for instance, for ploughing and harrowing. On the island of Lombok, West Nusa Tenggara Province, these animals are also used as the engines for pulling traditional carts for transportation, such as the \"cikar\" and the \"cidomo\".
-
24 - 25written by Cherrett, IanPenggunaan silo untuk pengawetan gabah sebenarnya bukan merupakan hal baru bagi masyarakat Lempira, Honduras. Namun, karena harganya yang relatif mahal dan kurang terjangkau membuat pemakaian silo tidak populer di masyarakat. Proyek Lempira Sur yang bertujuan membantu petani untuk menurunkan harga silo, mengambil risiko bernegosiasi dengan produsen bahan baku silo berupa lempengan timah dan metal dari negara tetangga. Selain itu, kaum perempuan dilatih membuat perapian dari bahan-bahan lokal yang modalnya diperoleh dari usaha simpan pinjam. In the Lempira Sur region of Honduras, unsuccessful attempts to introduce cookstoves led to a reassessment of the project’s strategy. Although the negative effects of the traditional open-hearth system were clear to women, the smoke from the fires helped preserve the family grains and when faced with the choice of new improved stoves or post-harvest losses, the stoves lost out every time. Improving the situation required a series of steps had to be taken at the same time: increasing yields through an agroforestry (Quesungual) system based on maximizing soil coverage; reducing the price of storage silos and making available new models of cheap cooking stoves, which could be easily built using local materials.
-
26 - 27written by Mahmudah HamawiBlotong merupakan hasil endapan atau limbah pemurnian nira sebelum dimasak dan dikristalkan menjadi gula pasir. Blotong yang dipadatkan dan dikeringkan (briket) dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Briket blotong tebu pertama kali dimanfaatkan oleh pengusaha rumah tangga pembuatan tahu. Kemudian diikuti oleh pengusaha rumah tangga yang lain, seperti: pembuat tempe ataupun pembuat batu bata dan warung makan. Pada tahun 1990, hampir semua penduduk Desa Sendang memanfaatkan briket tersebut. Dibandingkan dengan bahan bakar jenis lainnya, briket blotong tebu memiliki beberapa keunggulan. Blotong - waste material full of energy Blotong is a waste product from the production of (palm) sugar. When compacted and dried, in the form of briquettes, this waste material can be used as fuel. In Sendang village, blotong briquettes from sugarcane were used first by small producers of tofu. Producers of tempeh, bricks and local restaurants followed and since about 1990 almost all villagers here are using these briquettes. According to them, sugar cane briquettes have some special qualities compared to other fuels.
-
28 - 29written by Víctor M. Berrueta Soriano , Fernando Limón AguirreDaerah Chiapas dan Oaxaca merupakan daerah penghasil kopi terbesar di Meksiko, namun mereka masih menghadapi masalah dengan sistem pengeringan untuk menghasilkan komoditas sesuai keinginan pasar. Untuk mengatasi masalah tersebut, El Colegio de la Frontera Sur (ECOSUR) berinisiatif melakukan penelitian partisipatif untuk mengembangkan pengering kopi tenaga surya yang melibatkan kelompok produsen kopi organik di Chiapas, Lagos de Montebello. Drying is a critical aspect of coffee processing, since the quality and price of the coffee beans depend on how dry they are and also the way in which they have been dried. Even though coffee has been cultivated for decades the technologies used for drying are limited. In 2001 El Colegio de la Frontera Sur (ECOSUR) initiated a participatory research process to develop a solar coffee dryer with a group of organic coffee producers in Tziscan, Chiapas, Mexico.
-
30 - 31written by Ferdy M. Manu , A. AhsanMasyarakat lokal Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, punya satu cara khas untuk mengawetkan jagung hasil panenan mereka yang disebut suing. Suing biasanya dilakukan oleh kaum perempuan dan laki-laki. Biasanya hasil panen yang sudah di-suing bertahan 1-2 tahun. Hal ini sangat menguntungkan petani karena bila ada musim-musim yang dianggap paceklik, maka petani dapat memenuhi kebutuhannya. Industri gula merah di Desa Ampel dan Lojejer, Jember, Jawa Timur, masih menggunakan bahan bakar tradisional dalam proses pengolahan gulanya. Awalnya industri-industri tersebut masih menggunakan sekam sebagai bahan bakar karena hasilnya cukup bagus untuk memroses gula. Sayangnya, lama kelamaan sekam menjadi sangat mahal dan makin sulit didapat. Jika terus memakai sekam, industri gula merah akan merugi. Untuk mengatasinya masyarakat pun berpindah memanfaatkan tongkol jagung sebagai bahan bakar.
-
32 - 33written by NorsalehBerbekal keahlian dari 4 orang anggota kelompok sebagai tukang kayu, pada awal tahun 2004 terbentuklah sebuah kelompok pengelola kincir air yang diberi nama Ballo Mamase (Pelita Kasih). Berkat kerja sama dengan pendamping lapangan dari Yayasan Sosial Abdi Masyarakat (YSAM) yang pernah mengikuti pelatihan teknologi tepat guna tingkat Kab. Polmas, Sulawesi Barat, akhirnya pada tanggal 1 Juni 2004 kincir Ballo Mamase dapat dioperasikan. Kincir air pembangkit tenaga listrik ini sangat membantu produktivitas keluarga petani di sana, terutama dalam kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan pada malam hari. Windmill for electricity production In collaboration with a local NGO (YSAM), some members of a group from Mamasa, South Sulawesi, constructed a windmill in 2004. One of the staff of YSAM learned about this during a workshop on appropriate technology. The windmill was baptized \"Ballo Mamase\" (Light of Love). The electricity generated by this windmill is very beneficial to the local villagers especially for activities in the evening.
-
34 - 34Empat Ututu bersaudara mewarisi lahan pertanian subur yang dibuat berteras oleh ayah mereka pada akhir 1950-an. Di balik potensi tersebut, mereka mengalami masalah kekurangan air minum dan untuk irigasi. Awal 1990-an, mereka diberitahu bahwa gereja terdekat telah mengirim beberapa pemuda lokal untuk pelatihan penggalian sumur. Ututu bersaudara tergugah dengan kemungkinan potensi air di lahan mereka yang bisa disalurkan ke lahan pertanian dengan mempekerjakan pemuda terlatih tersebut untuk penggalian. Dengan memanfaatkan material seng bekas maka jadilah kincir angin untuk memompa air dari dalam tanah. In the semi-arid Mwingi District in Eastern Kenya, Joseph Ututu and his three brothers have revolutionized the local water supply by digging wells and constructing a windpump. The ingenious windpump that the brothers constructed from old bicycle parts and roofing materials was designed by Joseph Ututu, who had spent four years at technical college. The wells have solved the brother’s water problems and provided considerable additional income. Since they began, more than 30 wells have been dug by neighbours.
-
35 - 35PEKA, Panduan Menilai Kemampuan Organisasi Masyarakat Panduan fasilitasi dan perangkat penilaian ini dikembangkan atas kerja sama antara ACCESS Project-AusAID, VECO Indonesia, World Neighbors, Heifer Internasional Indonesia, MFP dan KPMNT. Buku ini menawarkan pendekatan untuk pengembangan kemampuan organisasi masyarakat. Dagang Air, Prihal Peran Bank Dunia dalam Komersialisasi dan Privatisasi Layanan atas Air di Indonesia Oleh Henry Heyneardhi dan Savio Wermasubun. Buku ini berupaya memaparkan tahap-tahap peranan Bank Dunia dalam mengarahkan upaya restrukturisasi layanan atas air di Indonesia menuju pola pelayanan yang berbasiskan komersialisasi dan privatisasi. New In Print
-
36 - 36written by Iwan SyahwantoIdenya sangat sederhana, namun manfaatnya sangat besar bagi tersedianya air untuk tanaman dalam jangka waktu panjang. Itulah kata yang pas untuk EGRA atau energi gratis. Egra adalah kincir yang dipasang setinggi 10 meter dari permukaan tanah, dan digerakkan oleh angin. Tenaga yang ditimbulkan oleh putaran kincir di salurkan ke engkol atau lengan penggerak pompa air. Hanya dengan kecepatan angin minimal 15 km per jam saja, egra siap memompa air untuk menyirami lahan mangga sepanjang hari walaupun di musim kemarau. For free: wind energy A windmill of about 10 metres high can produce enough power, when the wind speed is at least 15 km per hour, to allow a pump connected to the windmill to pump ground water for irrigation of crops.
